Yuk Menulis : Menuju 2030 Indonesia Emas Dengan Literasi Berkualitas.

Book Review

7 Hal Penting Untuk Indonesia Berdaya

Narasi Negeri Berdaya

Alhamdulillah akhirnya kesampean buat review buku setelah melewati semester 3. 🙂

Sebenernya sudah direncanakan dari awal, Tapi karena satu dua tiga dan lain hal akhirnya baru kesempetan sekarang.

Sebenernya aku membeli buku ini bukan karena judul, isi, atau kover bukunya. Tetapi karena aku terkagum dengan sesosok penulisnya. Yakni, Rendy Saputra yang biasa dipanggil Kang Rendy :D.

Menjadi sosok inspiratif ketika melihat beliau menjadi pembicara di Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika (SBDKK). Walaupun aku hanya melihat beliau di video rekamannya :”).

Dan yang membuat aku tertarik lagi adalah ketika tahu bahwa beliau adalah alumni ITB FTTM (Fakultas Pertambangan dan Perminyakan). Dimana, ini keren banget karena aku banget yang sama-sama anak teknik 😀

Harapannya sih bisa tahu pola pikir beliau sebagai anak teknik yang sekarang pindah haluan jadi entrepreneur. Kenapa memutuskan keluar dari ITB yang juga masuk ke salah satu fakultas terbaik disana memilih untuk keluar dan bergelut di bidang bisnis.

Oke cukup intermezzo-nya.

Kualitas kerjamu hari ini adalah harmu dikemudian hari — Rendy Saputra

Identitas Buku

Buku ini diterbitkan pertama kali pada September 2018, dengan nama penerbit KMO Indonesiaatau komunitas menulis online indonesia.

Ditulis oleh seorang entrepreneur dan trainerpreneur. Yaitu, Rendy Saputra yang merupakan CEO dari KeKe Busana dan CEO dari Serikat Saudagar Nusantara.

Memiliki cover yang sangat khas dengan buku beliau yang sebelumnya, Understanding Business, yang diterbitkan oleh Billionaite Store.

Yaitu sama-sama warna coklat. Buku Narasi Negeri Berdaya ini juga sangat representatif sekali antara cover dan isinya. Buku ini merupakan kumpulan Antologi Rendy Saputra atau pemikiran-pemikiran beliau tentang bagaimana cara membuat Indonesia yang berdaya.

Bagaimana cara bangsa ini agar bisa mengejar ketertinggalan bangsa-bangsa maju? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah : Narasi.

Aku akan membahas 7 hal menarik yang ada di buku ini. Yuk kita selami bersama-sama buku Antologi karya Kang Rendy ini 🙂

1. Pola 700 tahun Indonesia Emas

Dalam buku ini Kang Rendy sering banget mengulang-ngulang bahwa Indonesia itu adalah bangsa yang besar dan hebat. Suatu hari raksasa yang tidur ini akan bangkit dan menjadi bangsa yang mendominasi dunia.

Beliau mengilustrasikannya dari pola sejarah yang berulang.

Tahukah Anda bahwa sejarah itu pasti berulang ?

wah, kalau pasti berarti terjadi 100% donk ?

Yap, benar sekali. Sejarah memiliki pola yang sama dan suatu hari akan berulang mengikuti pola.

Contoh…

Di dalam Islam terdapat 5 Fase Kehidupan.

  1. Pertama, zaman Nubuwwah. Yakni, zaman kenabian. Diawali dari zaman Nabi Adam Alaihis Salam sampai baginda Nabi Muhammad .
  2. Kedua, zaman Khilafah l. Yakni, pada masa ini kepemimpinan dipegang oleh sahabat-sahabat Nabi. Yaitu, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra.
  3. Ketiga, zaman Al-Mulk (kerajaan). Pada masa ini ditandai dengan berakhir/ runtuhnya Dinasti Utsmani di Turki. Jika di Indonesia Majapahit, Sriwijaya, Galu dan sebagainya.
  4. Keempat, zaman Jababiro. Yakni, zaman kebebasan maksiat dimana-mana. Fitnah-fitnah bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin. Orang-orang yang tidak cakap/dzalim menjadi penguasa (pemimpin). Jumlah ummat Islam banyak tetapi bagaikan buih di atas laut (sedikit yang berjihad untuk membela Islam).
  5. Kelima, zaman Khilafah ll. Zaman yang mana suasana seperti pada zaman Rasulullah ﷺ. Nanti umat Islam akan dipimpin Imam Mahdi. Tetapi, hanya berlangsung lebih kurang 9 tahun. Pada zaman ini pula Dajjal muncul, Nabi Isa Alaihis Salam juga muncul ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan meng-Islamkan orang-orang Nashrani

Coba deh perhatikan…

Pada poin 1 nabi masih merintis islam dari awal yang dimana saat itu kemaksiatan dan orang kafir masih merajalela. Pada poin 2 Islam sudah mulai kokoh dan menyebar keseluruh dunia dengan dipimpinnya Islam oleh para sahabat.

Pada poin 3 dan 4 dimana bertolak belakang dengan poin 1 dan 2. Kemaksiatan menjadi merajalela lagi dan banyaknya kedzaliman karena penguasa yang tidak adil.

Nah, ketika di poin 5 sejarah berulang kembali seperti pada poin 1 dan 2. Dimana keislaman tumbuh subur kembali dan hukum-hukum islam ditegakkan seperti sedia kala.

Terbukti ‘kan ?

Bahwa sejarah itu memiliki pola yang akan berulang. Aku tidak bilang akan terulang kejadiannya 100% yaa.

Tapi disini poinnya adalah apa yang terjadi disejarah bisa jadi terjadi pada hari ini dengan kepastian pola yang sama.

“History never really says goodbye. History says, ‘See you later.’” — Eduardo Galeano

Terus, Apa implikasinya sama buku ini ?

Oke.. oke.. jadi gini, dibuku ini dibahas tentang sejarah 1400 tahun yang lalu Kerajaan Sriwijaya sangat disegani di seluruh dunia

Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan berdasarkan peta membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah

Bayangin broo ! sampe Kamboja !!!

Nah, 700 tahun yang lalu atau 700 tahun kemudian setelah Kerajaan Sriwijaya berdiri.

Lahirlah kerajaan Majapahit.

Kerajaan ini sangat hebat, Saking hebatnya sampe-sampe wilayah ekspansinya mencapai asia tenggara. Bahkan di peta terbarunya sampai berkuasa ke Hawaii, Amerika latin, dan Madagaskar.

Itulah kehebatan dari nenek moyang kita Nusantara terdahulu.

Kalau kita bayangkan 700 tahun dari pertama kali Kerajaan Majapahit itu berdiri tepatnya adalah zaman sekarang.

Oleh karena itu, Kang Rendy sangat yakin sekali bahwa tidak lama lagi Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat seperti halnya Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya.

2. Indonesia, Raksasa yang terlelap

Kalau kita bandingkan dengan data pendapatan per kapita negara Asia Pasifik. Indonesia memiliki pendapatan per kapita $4.130. Yakni :

  • Singapura : $55.235 | 14 kalinya Indonesia
  • Jepang : $48.556 | 12 kalinya Indonesia.
  • Korea Selatan : $26.152 | 6 kalinya Indonesia.
  • Malaysia : $11.521 | hampir 3 kalinya Indonesia.
  • Thailand : $6.125 | 1,5 kalinya Indonesia.

Dapat dilihat dari pendapatan per kapita masing-masing negara, Indonesia bisa dibilang sangat tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Ironisnya, Starting point negara-negara diatas hampir sama seperti Indonesia. Bahkan, Korea Selatan yang merdekanya 15 Agustus 1945 atau beda 2 hari dengan Indonesia. Dapat melesat unggul 6 kali lipat dari Indonesia.

Kalau kata Kang Rendy di buku ini. Bangsa Indonesia membutuhkan NARASI yang menghujam dan menjadi peta baru menuju Indonesia Negeri Berdaya !

Seharusnya kita memiliki narasi tentang pertanian, perikanan, peternakan, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga kita dapat menjadi bangsa yang besar.

3. Infrastruktur atau Sejahtera dulu ?

Pertanyaan ini mirip sekali seperti telur dulu atau ayam dulu ?

Siapa sih yang bikin. Yaa jelas telur dulu laah !!

Terus telurnya berasal darimana ? kalau ga ada ayam ? #garukgarukucing

Kang Rendy setuju bahwa kesejahteraan akan terlahir apabila infrastrukturnya mumpuni.

Gimana bangsa ingin maju kalau platform-nya aja tidak mendukung untuk maju ?

Di Jepang kebanyakan orang tinggal di apartemen bertingkat tinggi dan seluruh kebutuhan berada di satu gedung tersebut.

Sebagai contohnya apartemen ada 120 lantai.

Lantai 1-20 buat kerja

Lantai 21-30 swalayan modern

Lantai 41-50 pendidikan non-formal

Lantai 51-120 tempat tinggal

Wah enak banget dong kalau misalnya kerja, belanja, belajar, dan pulang tinggal turun naik lantai aja ?

Jelas enak banget.

Coba deh bayangin, di Tokyo itu terhitung warganya ada 40 juta. Dengan luas 2.188km persegi. Kalau di jabodetabek itu luasnya 6.400km persegi dengan total warga kurang lebih 25 juta.

Artinya apa ?

Bahwa di Indonesia menggunakan pelebaran kesamping untuk membangun infrastruktur. Sehingga lebih memerlukan luas tanah untuk menampung jumlah hunian manusia.

Berbeda dengan Jepang. Dengan desain hi rise building (apartemen) Jepang dapat memiliki banyak keuntungan dalam hal ini.

  1. Biaya murah karena ga perlu pake transportasi.
  2. Demacetisasi atau mengurangi macet karena dari satu tempat ke tempat lain sangat dekat.
  3. Meminimalisir pelebaran tanah akibat banyaknya hunian dan tempat tinggal.

Belajar dari Jepang lagi bahwa di Jepang itu tidak memprioritaskan jalan tol dalam melakukan perjalanan.

Orang Jepang lebih senang naik kereta dalam berpergian seperti kereta bawah tanah atau naik kereta cepat (shinkansen).

Tidak hanya Jepang. Negara-negara maju lain pun lebih senang naik kereta ketimbang mobil. Karena kereta tidak akan macet dan jadwalnya selalu on time.

Bagi Anda yang suka menonton film barat, Jepang, drama, atau Anime. Pasti kita sering melihat mereka lebih suka jalan, naik sepeda, atau naik kereta ketika berpergian.

4. Masjid sebagai cahaya negeri

Kang Rendy percaya bahwa masjid itu menjadi salah satu instrumen terpenting untuk kebangkitan Indonesia.

Di Indonesia kurang lebih masjid ada 800.000.

Apabila 800 ribu masjid itu dapat dikelola dengan baik. Dan terintegrasi pada pengelolaan masjid Nabi dan Al-quran. Maka sudah dapat dipastikan Indonesia akan sejahtera

Ketika Nabi Muhammad SAW pertama kali hijarah ke Madinah, Hal yang pertama kali beliau bangun adalah masjid.

Bukan sekolah

tidak juga pasar

apalagi jalan tol.

Dengan adanya masjid sebagai pusat keummatan. Berbagai hal dapat dirumuskan seperti ekonomi, politik, dan sosial.

Yaap, semua berawal dari masjid.

Akungnya, tidak semua masjid seperti zaman Rasul SAW. Yang dikelola dengan telaten dan penuh kesungguhan.

Sekarang mayoritas masjid tidak seperti itu.

  • Jamaahnya sedikit
  • Bacaan imamnya kurang fasih
  • Tidak memiliki manajemen dakwah yang baik
  • Tidak diberdayakan untuk kegiatan lain. Seperti pendidikan, proyek ummat, dll
  • Hanya sekedar digunakan untuk beribadah
  • Pengurus masjid atau DKM-nya hanya fokus pada masjid. Tidak berfikir “kenapa yaa kok jamaahnya sedikit?
  • Kurang ramahnya sesepuh-sesepuh masjid kepada anak kecil
  • Anak muda tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi di masjid
  • dan masih banyak lagi.

“Hanyalah Yang Memakmurkan Masjid-masjid Allah Ialah Orang-orang Yang Beriman Kepada Allah Dan Hari Kemudian, Serta Tetap Mendirikan Sholat, Menunaikan Zakat Dan Tidak Takut (Kepada Siapapun) Selain Kepada Allah, Maka Merekalah Orang-orang Yang Diharapkan Termasuk Golongan Orang-orang Yang Mendapat Petunjuk.” (Qs. At-taubah:18)

Pada surat diatas, Memakmurkan masjid disandingkan dengan menunaikan zakat dan mendirikan sholat. Sebegitu pentingnya lah kita seharusnya memakmurkan masjid layaknya sholat dan zakat.

Padahal masjid dapat memiliki banyak fungsi. seperti :

  1. Lapangan pekerjaan

Kalau saja di masjid dibuat struktur organisasi layaknya perusahaan. seperti

  • 1 CEO
  • 1 direktur operasional-ibadah
  • 1 direktur keuangan
  • 1 direktur komunikasi-media
  • 1 direktur ziswaf
  • 1 direktur pembinaan jamaah
  • 1 direktur General Affair

1 CEO, 6 Direktur, 7 BOD. 1 direktorat dapat merekrut lagi 5 staff yang pada akhirnya 1 masjid dapat menyerap 37 tenaga kerja. 😮

Bayangkan kalau 800.000 masjid x 37 tenaga pengelola. Anggaplah dengan masjid kecil, menjadi 20 pengelola per masjid, Berarti untuk ranah pengelolaan masjid saja Indonesia dapat membuka 16 juta lebih lapangan kerja baru.

2. Pemberdayaan Masyarakat

Nih, Kalau kita lihat jumlah waktu sholat wajib itu ada 5. Pastinya antara jamaah satu dengan jamaah lainnya pasti setiap hari ketemu entah itu di waktu malam ataupun siang hari.

Seharusnya masjid yang baik memiliki data setiap warga setempat, bahkan sampai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

Lucu dong, ada anak muda bolak-balik 5 waktu ke masjid, 5 bulan nganggur, sementara di masjidnya ada pengusaha yang punya bisnis 100 outlet. Hmm

Lucu dong, ada anak SMA mau masuk STEI ITB dan lagi kesulitan buat belajar Matematika IPA. Sementara sarjana teknik elektro UNPAD bolak-balik berjamaah di sebelah anak itu. 😀

Oleh karena itu, Seharusnya masjid menjadi satu instrumen yang dapat memberdayakan umat. Dengan memiliki LIST UMAT CEO masjid dapat memberdayakan masyarakat setempat seperti :

  • bapak itu sudah dapat kerjaan belum yaa?
  • ibu itu single parent butuh dicarikan suami enggak?
  • anak keluarga itu pinter tapi kok enggak kuliah yaa?
  • adek itu kok ga sekolah?
  • mas itu bisnisnya kurang modal kayaknya?

Dengan adanya pemberdayaan inilah diharapkan Indonesia akan lebih maju dan berdaya.

Masjid adalah barak kami, Kubah adalah penutup kepala kami, Menara adalah bayonet kami, dan orang-orang beriman adalah tentara kami. – Recep Tayyip Erdogan

5. Pendidikan yang kurang tepat sasaran

Di Indonesia pendidikan itu terlalu laaamaaaaa. Bayangkan aja

  • TK | 2 tahun
  • SD | 6 tahun
  • SMP | 3 tahun
  • SMA | 3 tahun
  • S1 | 4 tahun
  • S2 | 2 tahun
  • S3 | 2 tahun

Katakanlah kita berpendidikan sampai S1 dengan kelulusan 4 tahun. Kita baru akan mulai berada di dunia kerja kurang lebih pada umur 22 tahun.

Itu juga kalau langsung kerja. Gimana kalau nganggur ?

Kabar buruknya kalau kata Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana.

Makanya, kebanyakan orang ingin berkuliah lagi agar memiliki gaji yang stabil dan posisi yang cukup enak.

Nah, kalau kata salah satu Professor di Harvard “Sistem Pendidikan Indonesia Tertinggal 128 Tahun dari Negara Maju“. #JDEER

128 tahun ?!

Kita tertinggal 1,5 generasi broooh !!

Kita terlalu lama belajar dengan hal yang general. Bayangin aja waktu aku SMA aku dijejelin 13 mata pelajaran.

  • Pendidikan Agama
  • PKN
  • Matematika Wajib
  • Matematika Peminatan
  • Bahasa Indonesia
  • Bahasa Inggris
  • Bahasa Sunda
  • Sejarah Indonesia
  • Seni Budaya
  • Olahraga
  • Prakarya dan wirausaha
  • Biologi
  • Fisika
  • Kimia
  • @&%!&@^[email protected]*^*[email protected]^!*@^*@!( 🙁

terus sekarang itu semua masih inget ga ?

yaa cuma yang dipakai pas kuliah doang itupun ga semua bab dipakai. hufft

Kang Rendy dalam buku Narasi Negeri Berdaya ini. Memiliki pemikiran bahwa rentan waktu pendidikan harus diminimalisir. Sehingga waktu tidak terbuang terlalu banyak.

Pendidikan harus dibuat tepat sasaran. Kita tidak bisa memaksa burung untuk berenang, begitupula ikan untuk terbang.

  • Kalau anak ketika SD sudah terlihat bahwa dia suka hitungan, Kita tinggal mengarahkannya saja ke pelajaran yang hitung-hitungan.
  • Kalau anak lebih suka wirausaha langsung saja kita arahkan kesana.
  • Kalau anak sangat passion dengan ilmu sastra langsung saja kita jejelin seluruh pelajaran sastra kedia.

Se-simple itu sehingga tercipta generasi-generasi muda,unggul, dan berintelektual. Sehingga dapat berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela

6. Rejuvenasi Ekonomi

Banyak sekali sektor-sektor ekonomi yang dapat diberdayakan di Indonesia.

  1. Koperasi

Di New Zealand 10.500 peternak melakukan patungan modal untu membangun koperasi yang nantinya bertugas membeli bahan baku yang mereka hasilkan.

Koperasi itu beranama Fonterra. Apa saja kontribusi dari Fonterra ini ?

  • Fonterra berkontribusi pada 25% total nilai ekspor New Zealand. Dalam Pendapatan Domestik Bruto, Fonterra memberikan kontribusi 7% dari PDB New Zealand.
  • Fonterra memiliki program Fonterra Milk for School. Setiap hari, Fonterra membagikan 200 ml susu gratis setiap pagi ke 1.488 sekolah di New Zealand.
  • Fonterra juga menyediakan 125.000 sarapan gratis setiap pekannya ke 870 sekolah terpilih.

Yuk kita renungkan sejenak, Ada koperasi yang sehebat Fonterra dan memastikan pertumbuhan kesejahteraan peternak dan ekonomi nasional di New Zealand. Mengekspor lebih dari 95% hasil susu dalam negeri mereka ke lebih dari 100 negara di dunia. 😮

Kalau saja koperasi-koperasi di Indonesia dapat berdikari dan terorganisir dengan baik. Maka ini dapat menjadi sumbangsi besar bagi bangsa ini.

2. Pertanian

Saat ini Indonesia sedang krisis petani muda. Populasi petani yang berusia di bawah 35 tahun hanya 4% dari total seluruh petani.

Ini ancaman bagi sektor pertanian yang menyumbang 13% Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Jika PDB pada tahun 2017 sejumlah 13.588T, maka sektor ini menyumbang 1.766T.

Solusi yang Kang Rendy sampaikan adalah BUAT PETANI SEJAHTERA. Karena kebanyakan petani-petani berwasiat untuk anak mereka supaya tidak untuk menjadi petani karena

  • Gaji yang sedikit
  • Kerja yang lelah
  • Kurang dipandang
  • dll.

Padahal di negara-negara maju petani-petani sangat diberdayakan seperti diberi pencerdasan, gaji yang besar, teknologi yang mumpuni, pupuk yang handal, dll.

Seharusnya sektor pertanian ini harus diperhatikan penuh, Sehingga tidak ada lagi yang namanya cerita bahwan Indonesia mengimpor beras dari negara lain.

Justru sebaliknya, Indonesialah yang mengekspor ke negara lain.

3. Wirausaha

David McClelland dalam bukunya The achieving society mengatakan bahwa suatu negara akan maju apabila terdapat 2% pengusaha didalamnya.

lho bukannya pengusaha di Indonesia itu ada buaanyaak banget yaa ?

Tunggu dulu brotheer. Maksud dari David McClelland adalah pengusaha besar bukan mikro, kecil, atau menengah.

bedanya apa tuuh.

Badan Pusat Statistik membagi unit usaha menjadi empat level :

  • Mikro, 0 s/d 300 juta per tahun
  • Kecil, 300 juta s/d 2,5M per tahun
  • Menengah, 2,5M s.d 50M per tahun
  • Besar, di atas 50M (omset)

Dari 55 juta unit usaha di negeri ini, terdata 98,8% berada pada usaha mikro, usaha kecil 1%, usaha menengah terdapat 44 ribu ditambah usaha besar yang hanya 4.900-an. Maka dapat disimpulkan jumlah pengusaha Indonesia hanya 0.02% dari total populasi negeri.

7. Populasi dan Generasi Produktif

Di Jepang pada tahun 2017 teratat menyentuh angka kelahiran terendah sepanjang sejarah yaitu 941 ribu bayi per tahun. Sedangkan, tingkat kematiannya adalah 1,34 juta jiwa per tahun.

Kalau dihitung-hitung Jepang minus 125 juta jiwa atau minus 125 juta aset berharga.

Terdapat tanda-tanda bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat di tahun 2030.

Jika negeri lain kebingungan asupan generasi produktif, di tahun 2030, Indonesia akan kebanjiran jumlah generasi produktif sebanyak 195 juta jiwa.

Artinya 195 juta jiwa akan mampu bekerja untuk menghidupi 110 juta generasi yang tidak produkti.

Kondisi ini berselang 7 abad. Terjadi di 7 Masehi di zaman kejayaan Sriwijaya, dan berlangsung di abad 14 Masehi di zaman kejayaan Majapahit. Dan kembali berulang di abad 21. #Dahsyat ^_^.

Populasi itu aset bukan beban – Rendy Saputra

Itulah 7 poin yang powerful dalam buku ini, Sebenernya masih banyak lagi poin-poin penting dalam buku ini yang isinya benar-benar menjadi solusi dengan narasi-narasi yang dapat membangun Indonesia Berdaya.

Tapi, Biar Anda sendiri yang membacanya. Siapa tau dapat insight yang berbeda dari aku. 🙂

About author

Muhammad Sultan Reza biasa dipanggil Surez, Seorang mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya dan alasan kenapa dia dihidupkan di dunia ini.
    Related posts
    Book Review

    7 Intisari Dari Buku Melawan Kemustahilan

    Book Review

    5 Pembelajaran Penting Kepemimpinan Jalan Langit

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.