Yuk Menulis : Menuju 2030 Indonesia Emas Dengan Literasi Berkualitas.

Self Development

5 Kiat Sukses Menjadi Seorang MC Dari Amsal Processor Komputer

Di era milenial saat ini, setiap perusahaan,instansi, organisasi, bahkan individu memiliki kemungkinan untuk menyelenggarakan suatu acara. Baik itu formal maupun non-formal.

Dalam sebuah acara tersebut pastinya dibutuhkan seorang pemandu acara yang menjadi pemimpin dalam mengintruksikan acara satu-persatu. Yap, itulah Master of Ceremony (MC).

Kenapa saya bilangnya pemimpin ?

Karena jelas bahwa yang menjadi pusat perhatian audiens adalah MC karena dialah yang menjadi perantara dalam melakukan transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.

Dia jugalah yang menjadi kunci terciptanya kesan baik atau buruk dari suatu acara. Karena dialah yang pertama kali membuka dan nantinya akan menjadi orang yang akan menutup acara.

Alaah cuma MC doang, Kontribusinya dikit dan ga mencolok.

Hmm..

Ada benernya juga sih.

Tapi faktanya pekerjaan freelance yang banyak diminati saat ini adalah menjadi MC. Dari ngemsi kita dapat mendapatkan penghasilan tambahan yang tidak sedikit untuk satu kali acara.

MC jugalah yang menjadi pencipta suasana acara. Apabila terdapat suatu acara non-formal, MC dapat memeriahkan acara dengan berinteraksi dengan audiens atau melakukan sedikit lelucon untuk mencairkan suasana.

Sama halnya dengan processor komputer yang digunakan sebagai pusat atau otak dari komputer yang berfungsi untuk melakukan perhitungan dan menjalankan tugas.

Seorang MC juga begitu.

Ia mengatur jalannya suatu acara dengan melakukan improvisasi dan menjadi pencipta kesan pertama dalam suatu acara untuk audiens.

Disamping itu semua, yang menjadi nilai plus dalam menjadi MC adalah sebagai media pengembangan diri. Sadar tak sadar dalam menjadi MC sering sekali terjadi miss pada rundown.

Misalnya pukul 16:00 – 16:25 adalah kegiatan A. Tapi ketika sudah dilapangan kegiatan A terlaksan sampai 16:50 dikarekan acara ngaret. Masih untung jika panitia menyiapkan plan B.

Nyatanya…

MC sendirilah yang harus mengimprovisasi jalannya acara yang tidak sesuai rundown. Inilah yang nantinya akan membuat kita berkembang karena otak kita berfikir secara kritis dan kreatif untuk mencari improvisasi yang tepat.

Kritis dan kreatif ini biasanya disebabkan oleh kondisi yang kepepet. wkwkwk

Berikut adalah 7 kiat sukses untuk menjadi seorang MC yang memukau audiens dan membuat mereka ingin melihat kamu lagi sebagai MC-nya.

Click To Tweet

1. Mulai Dari Penampilan

Source : Shopee

Jangan karena kita menganggap kalau kita itu “cuma” MC. Bukan berarti penampilan itu ga penting ya guys.

Setidaknya kita itu sudah enak dilihat oleh diri kita sendiri. Jangan sampai ketika kita sudah lihai dalam memandu acara, tapi karena penampilan kita kurang nikmat untuk dipandang. Kesan pertama tidak terbangun dengan baik.

Sebenarnya ga semua orang sih merhatiin penampilan si MC. Terutama kalau acara non-formal yaa…

Biasanya yang orang merhatiin penampilan adalah orang yang dulunya pernah melihat MC serupa tapi memiliki penampilan yang lebih rapih.

Jadi, jangan sampai ada orang yang mikir, “yah MC-nya kok dekil banget sih beda ama MC acara yang dulu pernah gue hadiri.”

Yah setidaknya kalau di acara non-formal kaya di kampus, kita pake kemeja deh jangan pake kaos. Karena kalau saya sendiri lebih enak liat orang pake kemeja ketimbang kaos, apalagi kalau lagi di suatu acara.

Untuk acara formal, setidaknya para pria sediain deh satu blazer/jaz. Anggaplah diri kita itu sebagai pembicara yang diundang, yang bicara didepan khalayak orang.

Ini bisa menjadi satu modal penting agar membuat audiens nyaman terhadap penampilan kita. Barang kali dengan berpenampilan seperti ini ada mantan orang yang minta jasa kita untuk ngemsi di acaranya. ^^

Penampilan menjadi aspek penting dalam menjadi MC yang sukses Click To Tweet

2. Sudah Mantap Dengan Acara

Semakin canggih dan cerdasnya sebuah processor, semakin mahal juga komputer/laptop tersebut.

Seorang MC harus sudah paling tahu sebuah acara ini ingin dibawa kemana. Caranya adalah dengan menggali kebutuhan klien kita.

Setiap acara mempunyai tujuan dan suasana yang khas. Sebagai MC, kita akan merasakan hegemoni yang berbeda dalam setiap acara. Untuk itulah dari awal kita harus sudah menggali informasi sebanyak mungkin kepada klien kita.

Berikut adalah hal-hal yang patut kita pelajari sebelum kita ngemsi di atas panggung :

  1. Tujuan acara
  2. Suasana yang dibangun
  3. Audiens yang hadir
  4. Tagline acara
  5. Doorprize
  6. Rundown

Waaah kok banyak banget sih ?

Tentu saja, ketika kita tidak menggali informasi-informasi tersebut. Kita akan nge-blank sendiri karena bingung acara ini tuh sebenernya ngapain sih ?

Sehingga ini akan membuat kreativitas kita tidak bekerja secara optimal. Dan pada akhirnya tidak akan terciptanya improvisasi ketika di panggung nanti.

Oleh karenanya, jangan berhenti bertanya sampai kita benar-benar paham poin-poin penting yang ditulis diatas.

Setelah kita mengetahui seluruh konten acaranya. Tulislah pada catatan kecil atau biasanya diberi Que Card oleh panitia. Disitu kita tulis ringkasan-ringkasan disetiap rundown-nya agar nantinya memudahkan kita dalam mengendalikan acara.

3. Berlatih dan terus mengulang

Repetition is the mother of learning, the father of action, which makes it the architect of accomplishment.

– Zig Ziglar –

Inilah yang paling penting. Karena kalau ga latihan dan terbiasa akan membuat kita kurang lihai dalam membawa acara, apalagi kalau lagi deg-degan karena tatapan audiens yang mencekam.

Disini ada dua kasus dalam waktu pelatihan.

  1. Waktunya panjang
  2. Waktunya pendek (mendadak)

Jika memang kita diminta oleh klien kita untuk menjadi MC dan acara itu masih lama. Kita dapat melatihnya seperti biasa dengan memahami seluruh instrumen acara yang kemudian terus diulang-ulang.

Nah, pertanyaannya bagaimana jika kita menjadi MC dadakan ?

Biasanya ini sering terjadi di kampus. -_-

Saya menemukan cara yang bisa dibilang sangat impactful dan efisien dalam berlatih hanya dalam waktu 15-30 menit.

Yap, teknik ini dinamakan visualisasi.

Ketika saya diminta menjadi MC di acara Gradasi (Gema Ramadhan Syiar Islami) FTUI 2018. Saya sudah diminta dari H-7 acara dimulai, tapi baru tau rundown dan segala printilannya kurang dari 5 jam acara dimulai. #tepokjidat

Ini dikarenakan penyakit mahasiswa yang disebut deadliner ūüėÄ

Setelah di-briefing kurang lebih 30 menit. Saya pun berniat pulang dulu ke kostan saya untuk menyiapkan tenaga dan mencerna rundown.

Setelah saya sampai di kost saya tidur siang dulu sekitar 1 jam. Karena acaranya dimulai pukul 16:00 sore.

Setelah bangun tidur saya melakukan teknik visualisasi ini. Syaratnya ada 3

  1. Harus ditempat yang tenang
  2. Tubuh fit
  3. Sudah mengetahui seluruh instrumen acara (audiens, tempat, rundown, dll)

Teknik visualisasi ini seperti namanya, kita mengvisualisasikan diri kita yang lagi ngemsi di atas panggung sesuai dengan kondisi nyatanya. Gimana pembukaannya, cara kita menatap ke audiens, bagaimana jalannya rundown. Itu semua kita visualisasikan di dalam otak kiya.

Setelah di visualisasikan tiap rundown. Catatlah di dalam que card, sehingga ini memudahkan kita untuk mengingat kembali apa yang kita visualisasikan. Misalnya kita ingin membuka acara dengan pantun catatlah pantunnya.

Proses visualisasi ini berhasil saya lakukan kurang lebih dalam waktu 30 menit sebelum ashar. Setelah ashar atau beberapa menit setelah acara dimulai saya tidak mencoba visualisasi lagi melainkan banyak mengobrol dengan teman untuk menghilangkan rasa demam panggung.

Bagaimana hasilnya ?

Alhamdulillah semua visualisasi itu lancar dan sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Bisa dibilang ini tekniknya mc dadakan. hihihi

4. Kreatif dan Inovatif

Kenapa ada audiens yang ketika melihat MC membuka acara saja tidak fokus atau bahkan sampai tidak memperhatikannya sama sekali. Padahal secara tutur kata sudah oke, percaya diri sudah oke, dan pakaian sudah oke.

Manusia memiliki sifat bosan ketika mengulang hal yang sama secara terus-menerus. Implikasinya disini adalah banyak sekali MC yang saya lihat ketika membuka acara hanya menggunakan kata-kata itu saja sebagai pembuka. Tidak ada inovasi sehingga MC akan lebih didengar.

Contoh nyatanya adalah MC-MC biasanya menggunakan kata pembuka yang dimana kata-kata ini sudah didengar oleh audiens berkali-kali. Sehingga tingkat kepekaan mereka dengan kata itu berkurang. Seperti puji syukur kami panjatkan, segala puji bagi tuhan semesta alam, dll.

Pengulangan berkali-kali akan mematikan sensitivitas Click To Tweet

Gapapa sih menggunakan kata-kata itu sebagai pembuka. Hanya saja kita tidak dapat membangun engagement yang baik terhadap audiens. Apalagi pembukaan adalah kesan pertama MC terhadap audiens, dan kesan pertama audiens terhadap acara tersebut.

Ada banyak inovasi yang dapat menciptakan pembukaan yang kreatif. Seperti membukanya dengan storytelling terlebih dahulu atau yang lebih gampang adalah dengan pantun jenaka.

Itu baru dalam kasus pembukaan.

Pada kenyataannya kondisi di kertas (rencana) dengan di lapangan pasti berbeda. Ini memang kenyataan apalagi dengan kultur Indonesia yang suka ngaret. Dengan begitu banyak rundown yang tergeser, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan nanti.

Inilah yang menurut saya tugas MC yang paling penting.

  • Bukan sebagai jembatan antara satu rundown ke rundown yang lain
  • Bukan sebagai orang yang membuka dan menutup acara
  • Bukan pula sebagai orang yang menghibur audiens


Tugas MC yang paling penting adalah membuat suatu acara yang tadinya tidak sesuai dengan rundown, menjadi sesuai rundown lagi dengan improvisasi dan kreativitas.

Misalnya kalau waktunya kelamaan, kita bisa briefing acara selanjutnya dengan mempercepat waktunya. Kalau waktunya kebentaran kita bisa tampil dengan berinteraksi terhadap audiens sampai rundown selanjutnya tiba.

5. Memiliki Jiwa Penghibur

Kitalah yang akan menjadi orang pertama yang paling tahu kondisi dari audiens.

Kunci kesuksesan kesan baik dan buruk suatu acara ada pada MC-nya.

MC yang handal akan menjadikan diri mereka terlihat bersemangat dihadapan audiens. Biasanya MC yang terlihat bersemangat sendiri akan terlihat aneh dengan meramaikan acara sendiri.

Tips dari saya adalah libatkan audiens dalam percakapan MC. Sehingga tidak ada yang namanya MC semangat sedangkan audiens hanya melongo dan bermuka datar. Biasanya kondisi inilah yang membuat para MC malah jadi deg-degan karena tidak adanya interaksi.

Kunci dari melibatkan audiens adalah 90:10.

Apa maksudnya 90:10 ?

Yaa jadi gampangnya gini. 90% kita berbicara dan 10% audiens berbicara. Disini peran MC harus merasa super PD dan harus dominan ngomong. Kok harus gitu ?

Karena audiens suaranya kecil tidak menggunakan pengeras suara atau semacamnya. Mereka akan cenderung malu apabila diajak interaksi secara panjang. Kecuali jika ada audiens yang datang bersama teman-temannya, biasanya tipe audiens ini yang suka bikin rame.

Pernah ga sih, ketika kita lagi sok asik di atas panggung terus kita nanya nih ke audiens, ehh tau-taunya malah dikacangin dan pada cengo doang…

Pernah ???

Kalau pernah berarti kita senasib interaksi kita dengan audiens belum mencapai target 90:10.

Nah, misalnya terdapat acara yang panjang dan bersesi-sesi, misalnya dari jam 08:00 – 17:00 dengan total 4 sesi.

Teknik MC bersemangat ini tidak akan berguna guys ketika kita menggunakannya di sesi ke-4. (misal sesi-4 pukul 15:00 – 17:00 )

Karena audiens sudah lelah dengan berbagai macam dinamika acara, tidak etis apabila MC memaksakan diri untuk bersemangat dan malah kita jadi orang yang jenkel. wkwkwkwkwk

Teruuus harus gimana donk ?

Cara kontemporer adalah dengan menggunakan ice breaking.

Apa itu ice breaking ? gampangnya adalah sesi untuk mengembalikan fokus dan konsentrasi audiens terhadap acara ini. Untuk ide ice breaking-nya sendiri terdapat banyak sekali di youtube.

Dengan ice breaking ini diharapkan kita tetap dapat membawa nuansa MC yang ‘semangat’ sehingga membawa acara ini dengan lancar dan sukses.

Sama halnya seperti processor, prosesor tidak dapat bekerja sendiri, namun membutuhkkan dukungan dan hubungan dengan komponen lain.

MC juga seperti itu.

Kita tidak akan dapat bekerja sendiri, kita harus libatkan audiens agar memeriahkan acara yang kita MC-kan.

About author

Muhammad Sultan Reza biasa dipanggil Surez, Seorang mahasiswa yang sedang mencari jati dirinya dan alasan kenapa dia dihidupkan di dunia ini.
    Related posts
    Self Development

    5 Alasan Kenapa Belajar Komunikasi Menjadi Sangat Penting di Era Digital

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *